Posts

Anoa (Bubalus spp.) Food Plants in Tanjung Peropa Wildlife Reserve, Southeast Sulawesi

Abdul Haris Mustari Department of Forest Resources Conservation, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University, Indonesia (haris.anoa@yahoo.com) SUMMARY A total of 46 species of anoa food plants (leaves and shoots) and two species of fruits that were known to be eaten by the animals in their natural habitat were analyzed using Proximate analysis. Browsing signs of the animals on these plants were observed in the forests, indicating that these food plants were potentially eaten by the animals in the natural habitats. Some of the analysed food plants, such as  Merremia peltata, Physalis minima , and bamboos ( Schizostachyum lima  and  cf Schizostachyum brachycladum ), were also identified microscopically as the predominant food plants in the diets of the animals. Percentages of the nutrients in the food plants varied considerably. Percent of crude protein was 5.58 -21.60 (mean 12.70; SD 4.34), while percent of crude fibre varied from 14.68 to 62.68 (...

PERILAKU ANOA (Bovidae: Bubalus spp.)

Abdul Haris Mustari Department of Forest Resources Conservation, Faculty of Forestry,  Bogor Agricultural University, Indonesia  (haris.anoa@yahoo.com) Pengamatan perilaku anoa baik di alam maupun di kebun binatang dilakukan oleh penulis (AHM) sejak tahun 1994 sampai sekarang. Berikut beberapa perilaku penting anoa. Pola Aktivitas harian Anoa menunjukkan pola aktif bi-phasic, dua fase, baik siang maupun malam hari. Pada siang hari, anoa aktif pada pagi hari sekitar pukul 6-9. Pada siang hari pukul 11-15, anoa mengurangi aktivitasnya, berlindung atau istirahat. Satwa ini kembali aktif pada sore hari sekitar pukul 4-6. Pada malam hari anoa menunjukkan intensitas aktivitas yang tinggi pada awal malam dan akhir malam. Pola aktivitas anoa di kebun binatang sesuai dengan di alam, yaitu aktif pada siang dan malam hari (Mustari 1995, 2003). Makan Anoa menunjukkan preferensi yang tinggi pada jenis makanan berupa daun daripada buah dan umbi. Namun buah dan umb...

Ekologi dan Konservasi Babirusa (Babyrousa babyrussa)

Image
Oleh  Abdul Haris Mustari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB (haris.anoa@yahoo.com) Taksonomi Babirusa termasuk ke dalam famili Suidae dan salah satu anggota famili yang tertua diwakili oleh subfamily Babyrousinae yang dipisahkan dari warthog cabang dari famili Suidae (Subfamilii Phacochoerini selama zaman Oligocene atau awal Miocene. Babirusa hanya ada satu spesies dalam sub-famili babyrousinae (Ordo Artiodactyla, Sub Ordo Suiformes, famili Suidae). Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat tiga sub spesies (Groves 1980) atau tiga spesies (Groves and Meijaard 2002) babirusa yang dapat dibedakan berdasarkan geografi, ukuran tubuh, jumlah rambut pada tubuh dan bentuk dari gigi taring pada jantan. Menurut Groves (1980), terdapat empat subspesies babirusa yaitu Babyrousa babyrussa babyrussa terdapat di Pulau Buru, Babyrousa babyrussa celebensis menghuni daratan utama Sulawesi (Sulawesi minland), Babyrousa babyrussa togeanensis terdapat di Kepu...

POPULATION DENSITY AND DISTRIBUTION OF LOWLAND ANOA (Bubalus depressicornis) IN SOUTH EAST SULAWESI, INDONESIA

Abdul Haris Mustari Depatment of Forestry Resources Conservation, Faculty of Forestry Bogor Agricultural University PO Box 168 Bogor 16001, Indonesia Email:haris.anoa@yahoo.com Anoa or dwarf buffalo is endemic to the Island of Sulawesi, Indonesia. The field study was conducted in Tanjung Peropa (38,927 ha) and Tanjung Amolengo (604 ha) Wildlife Reserves, situated in the very remote areas in the south-eastern tip of the mainland of Southeast Sulawesi in the period of 2000 and 2002. Population of the lowland anoa were estimated using the Line Transect Method and Program DISTANCE 4 was applied to estimate density. A total of 20 and 10 sightings of anoas were made during the 372 and 124.3 km of transects walked in Tanjung Peropa and Tanjung Amolengo reserves, respectively. Since the encounters totalled fewer than 40 observations, for analyses, the data were pooled and population density was calculated based on the pooled data, resulting in an estimated density of 1.3 anoa...

Beberapa Spesies Kunci untuk Konservasi di Sulawesi

Oleh Abdul Haris Mustari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB  (haris.anoa@yahoo.com) Terletak diantara pengaruh Zoogeografi Oriental di bagian barat (Sundaic) dan Zoogeografi Australia di sebelah timur (Papuan) Indonesia, kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi termasuk berbagai jenis flora dan fauna endemik. Bio-region Wallacea pertama kali dicetuskan dan kemudian dipopulerkan oleh seorang pengelana alam  naturalist  Inggris, Alfred Russel Wallace, pada tahun 1856 yang berdasarkan pengamatannya bahwa kawasan ini memiliki jenis satwa dan tumbuhan yang berbeda dengan yang ada di bagian barat dan timur nusantara. Jenis satwa dan tumbuhan yang ada merupakan perpaduan wilayah barat dan timur, namun jenis yang dijumpai berbeda dengan jenis-jenis di wilayah penyebaran leluhurnya karena berbagai jenis satwa dan tumbuhan tersebut telah mengalami isolasi genetik dalam waktu evolusi yang sangat lama sehingga...

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Sulawesi Tenggara

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa seluas 38927 ha merupakan salah satu habitat penting Anoa di Sulawesi Tenggara dengan populasi sekitar 300-350 ekor. Kawasan konservasi ini mencakup beberapa tipe habitat mulai dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan riparian, dan hutan dataran rendah dengan karakeristik utama batu kapur dan karst. Ketinggian habitat bervariasi 0-1000 m dpl. Selain anoa, satwa lain yang terdapat di SM Tanjung Peropa yaitu babi kutil Sulawesi (Sus celebensis), rusa (Rusa timorensis macassaricus), kuskus beruang (Ailurops ursinus), kuskus kerdil Sulawesi (Strigocuscus celebensis), rangkong (Rhyticeros cassidix), kara-kara (Penelopides exarhatus), maleo (Macrocephalon maleo). Berbagai jenis tumbuhan dapat dijumpai di kawasan konservasi ini, seperti bitti/laban/ (Vitec cofasus), kalaero (Diospyros malabarica dan D. pilosanthera), bayam (Intsia bijuga), pangi (Pangium edule), dlsb. Kawasan konservasi ini tidak lepas dari berbagai tekanan, terutama pembalakan liar serta pera...

Habitat, Populasi dan Perilaku Tarsius (Tarsius tarsier) Di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan

Image
        Catatan penulis berikut ini dilakukan pada waktu melakukan ekspedisi Studi Konservasi Lingkungan (Surili) di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) bersama dengan mahasiswa Kelompok Pemerhati Mamalia (KPM), Himakova KSH Fahutan IPB pada bulan Agustus 2007. Tulisan singkat ini merupakan sebagian dari hasil ekspedisi tersebut.      Tarsius tarsier , TN Babul (Foto A.H.Mustari 2007)           Terdapat enam spesies tarsius di Sulawesi, salah satu diantaranya yaitu  Tarsius tarsier  di TN Babul.  Dengan adanya populasi tarsius di taman nasional yang penunjukan dan penetapannya relatif baru ini menambah arti pentingnya TN Babul sebagai kawasan konservasi karena selain sebagai taman nasional dengan ekosistem karst terluas di Indonesia, juga sebagai gudang biodiversity satwa endemik Wallacea. Dalam bahasa daerah Makassar, tarsius dikenal dengan nama Balau’ Cangke’ (balau=t...